Scroll Terus, Tapi Kenapa Hati Makin Kosong?
Pernah merasa sudah scrolling berjam-jam, tetapi hati tetap terasa kosong? Awalnya hanya ingin mencari hiburan sebentar, tetapi tanpa sadar waktu berlalu begitu cepat. TikTok dibuka, Instagram dilihat, YouTube Shorts ditonton, lalu berpindah lagi ke aplikasi lainnya.
Kita mendapatkan banyak informasi dan hiburan, tetapi anehnya, ketenangan hati tidak selalu ikut bertambah.
Bahkan terkadang justru sebaliknya. Semakin lama scrolling media sosial, semakin sering kita membandingkan diri, merasa tertinggal, overthinking, iri terhadap kehidupan orang lain, atau merasa hidup sendiri tidak cukup baik.
Lantas, mengapa scrolling media sosial bisa membuat hati terasa semakin kosong? Bagaimana Islam memandang penggunaan media sosial dan waktu yang kita habiskan di dalamnya?
Mari kita renungkan bersama.
—
Media Sosial: Hiburan yang Tidak Selalu Memberikan Ketenangan
Media sosial sebenarnya bukan sesuatu yang otomatis buruk.
Dengan teknologi, kita bisa belajar ilmu agama, membaca Al-Qur’an, mengikuti kajian, mendapatkan informasi bermanfaat, berdakwah, bahkan membantu orang lain.
Namun, masalah muncul ketika media sosial berubah dari alat menjadi tempat pelarian.
Sedih → scrolling.
Bosan → scrolling.
Kesepian → scrolling.
Stres → scrolling.
Tidak bisa tidur → scrolling.
Akhirnya, setiap kali hati merasa tidak nyaman, tangan secara otomatis mencari HP.
Padahal hiburan dan ketenangan adalah dua hal yang berbeda.
Sesuatu bisa membuat kita tertawa tanpa membuat hati menjadi tenang. Sesuatu juga bisa membuat kita lupa masalah selama beberapa menit tanpa benar-benar menyelesaikan masalah tersebut.
Allah ﷻ berfirman:
«أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ»
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra‘d: 28)»
Ayat tersebut mengingatkan bahwa ketenangan hati berkaitan erat dengan mengingat Allah.
Bukan berarti seorang Muslim tidak boleh menikmati hiburan. Akan tetapi, jangan sampai kita mencari ketenangan hati di tempat yang hanya mampu memberikan hiburan sesaat.
—
Mengapa Scrolling Media Sosial Membuat Kita Sulit Merasa Cukup?
Salah satu masalah terbesar dari media sosial adalah kita terus-menerus melihat kehidupan orang lain.
Ada yang baru membeli mobil.
Ada yang menikah.
Ada yang mendapatkan pekerjaan impian.
Ada yang kuliah di tempat bagus.
Ada yang liburan ke luar negeri.
Ada yang memiliki tubuh ideal.
Ada yang terlihat selalu bahagia.
Kemudian kita melihat kehidupan sendiri dan mulai bertanya:
“Kenapa hidup gue belum seperti mereka?”
Padahal kita sering lupa bahwa media sosial pada dasarnya adalah kumpulan potongan kehidupan yang dipilih untuk ditampilkan.
Kita melihat keberhasilan seseorang, tetapi tidak melihat kegagalannya.
Kita melihat senyumnya, tetapi tidak melihat tangisnya.
Kita melihat pencapaiannya, tetapi tidak melihat perjuangannya.
Allah ﷻ berfirman:
«وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ»
«“Dan janganlah engkau tujukan pandanganmu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami uji mereka dengannya.”
(QS. Taha: 131)»
Ayat ini memberikan pelajaran penting: jangan terus-menerus memusatkan pandangan kepada apa yang dimiliki orang lain.
Sebab semakin sering kita melihat kehidupan orang lain tanpa rasa syukur, semakin mudah kita merasa bahwa kehidupan sendiri selalu kurang.
—
FOMO: Takut Ketinggalan Tren, Tetapi Tidak Takut Kehilangan Waktu
Salah satu fenomena yang banyak terjadi di era media sosial adalah FOMO (Fear of Missing Out), yaitu rasa takut tertinggal dari sesuatu yang sedang dilakukan atau diketahui orang lain.
Takut tidak tahu tren terbaru.
Takut ketinggalan berita viral.
Takut tidak ikut challenge.
Takut tidak mengetahui drama terbaru.
Takut tidak mengikuti perkembangan kehidupan orang lain.
Akibatnya, kita terus membuka media sosial meskipun sebenarnya tidak ada sesuatu yang penting untuk dicari.
Padahal Rasulullah ﷺ telah mengingatkan:
«نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ»
«“Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu padanya: kesehatan dan waktu luang.”
(HR. Bukhari no. 6412)»
Waktu luang adalah nikmat.
Tetapi waktu luang juga bisa menjadi jebakan apabila kita menggunakannya tanpa tujuan.
Satu menit scrolling mungkin terasa kecil.
Sepuluh menit juga terasa kecil.
Tetapi jika dilakukan berkali-kali setiap hari, berapa banyak waktu yang sebenarnya hilang dalam satu minggu?
—
Jangan Sampai Kita Takut Ketinggalan Dunia, Tetapi Santai Ketika Ketinggalan Akhirat
Ini bagian yang layak kita renungkan.
Kita takut ketinggalan tren.
Tetapi apakah kita takut tertinggal dalam membaca Al-Qur’an?
Kita takut tidak mengetahui berita terbaru.
Tetapi apakah kita takut melewatkan waktu shalat?
Kita takut kehilangan followers.
Tetapi apakah kita takut kehilangan hubungan dengan Allah?
Kita takut tidak mengikuti perkembangan dunia.
Tetapi apakah kita sudah memikirkan perkembangan amal kita menuju akhirat?
Allah ﷻ berfirman:
«وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ»
«“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian.”
(QS. Al-‘Asr: 1–2)»
Waktu terus berjalan.
Ketika kita scrolling, waktu tetap berjalan.
Ketika kita tidur, waktu tetap berjalan.
Ketika kita sibuk membandingkan diri dengan orang lain, waktu juga tetap berjalan.
Dan waktu yang telah berlalu tidak dapat dikembalikan.
—
Masalahnya Bukan HP, Tetapi Cara Kita Menggunakannya
Islam tidak mengajarkan kita untuk membenci teknologi.
HP dapat menjadi sarana kebaikan.
Media sosial dapat digunakan untuk berdakwah.
Internet dapat digunakan untuk belajar.
Teknologi dapat membantu manusia menyelesaikan berbagai persoalan.
Maka pertanyaannya bukan:
“Apakah menggunakan media sosial itu boleh?”
Tetapi:
“Untuk apa kita menggunakannya?”
Dan yang lebih penting:
“Apakah kita masih mengendalikan media sosial, atau justru media sosial yang mengendalikan kita?”
Coba perhatikan kebiasaan kita.
Apakah tangan langsung mencari HP ketika baru bangun tidur?
Apakah kita tidak bisa makan tanpa menonton sesuatu?
Apakah kita merasa gelisah ketika tidak memegang HP?
Apakah kita membuka media sosial setiap kali merasa bosan?
Apakah kita terus scrolling meskipun sebenarnya sudah lelah?
Jika jawabannya iya, mungkin sudah waktunya kita melakukan evaluasi.
—
Tidak Semua yang Kita Lihat Harus Kita Konsumsi
Rasulullah ﷺ bersabda:
«مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ»
«“Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya.”
(HR. Tirmidzi no. 2317; dinilai hasan)»
Hadis ini sangat relevan dengan kehidupan digital.
Tidak semua video harus kita tonton.
Tidak semua komentar harus kita baca.
Tidak semua perdebatan harus kita ikuti.
Tidak semua berita harus kita konsumsi.
Tidak semua akun harus kita ikuti.
Dan tidak semua hal yang muncul di layar kita layak mendapatkan perhatian.
Kemampuan untuk berhenti juga merupakan bentuk pengendalian diri.
—
Ketika Algoritma Mengenal Kita, Apakah Kita Masih Mengenal Diri Sendiri?
Algoritma media sosial dirancang untuk membuat kita terus melihat konten yang kita sukai.
Satu video selesai, muncul video lain.
Kita berhenti sebentar, muncul konten yang lebih menarik.
Kita tertarik pada suatu topik, semakin banyak konten serupa yang ditampilkan.
Akhirnya kita masuk ke sebuah siklus:
lihat → tertarik → scroll → penasaran → scroll lagi.
Tanpa sadar, waktu berlalu.
Masalahnya, manusia tidak hanya membutuhkan rangsangan dan hiburan.
Kita membutuhkan makna, ketenangan, hubungan, dan tujuan hidup.
Dan bagi seorang Muslim, hati membutuhkan hubungan dengan Allah ﷻ.
Karena itu, jangan sampai kita mengenal begitu banyak tren, tetapi semakin jauh dari Al-Qur’an.
Jangan sampai kita hafal nama-nama orang yang viral, tetapi tidak mengenal ayat-ayat yang seharusnya menjadi petunjuk hidup kita.
—
Apa yang Harus Dilakukan Ketika Hati Mulai Terasa Kosong?
Tidak perlu langsung melakukan sesuatu yang ekstrem.
Tidak harus membuang HP.
Tidak harus menghapus seluruh media sosial.
Yang perlu dilakukan adalah mengembalikan kendali kepada diri sendiri.
1. Beri Jeda dari Layar
Sisihkan waktu tertentu tanpa media sosial.
Misalnya setelah bangun tidur, ketika makan, ketika bersama keluarga, dan menjelang tidur.
2. Ganti Sebagian Waktu Scrolling dengan Al-Qur’an
Tidak perlu langsung satu juz.
Mulailah dari beberapa ayat yang dibaca dengan memahami maknanya.
3. Perbanyak Dzikir
Allah ﷻ berfirman:
«أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ»
«“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra‘d: 28)»
Ketika hati gelisah, jangan selalu mencari distraksi.
Cobalah mencari Allah.
4. Berhenti Membandingkan Kehidupan
Ingat bahwa apa yang terlihat di media sosial bukan keseluruhan kehidupan seseorang.
Syukuri apa yang Allah berikan kepada kita.
5. Bersihkan Timeline
Jika sebuah akun terus membuat kita iri, marah, insecure, atau lalai, tidak ada kewajiban bagi kita untuk terus mengikutinya.
Menjaga hati juga berarti menjaga apa yang kita izinkan masuk melalui mata dan pikiran.
—
Penutup: Jangan Sampai Hidup Kita Ikut Ter-scroll
Media sosial bukan musuh.
HP bukan musuh.
Teknologi juga bukan musuh.
Yang harus kita waspadai adalah ketika semua itu mengambil terlalu banyak waktu, perhatian, dan ruang di dalam hati kita.
Kita bisa scrolling selama berjam-jam.
Melihat ratusan video.
Membaca puluhan komentar.
Mendapatkan begitu banyak informasi.
Tetapi setelah layar ditutup, hati masih terasa kosong.
Mungkin karena hiburan tidak selalu sama dengan ketenangan.
Jika hati terasa kosong, jangan selalu menambah scrolling.
Cobalah berhenti.
Letakkan HP.
Ambil wudhu.
Baca Al-Qur’an.
Berzikir.
Berdoa.
Dan kembali mengingat Allah.
Sebab Allah ﷻ telah memberikan jawabannya:
«“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra‘d: 28)»
Jadi, silakan scroll.
Silakan menikmati teknologi.
Silakan menggunakan media sosial.
Tetapi jangan sampai jempol kita terlalu sibuk menggulir layar sampai hati kita lupa menghadap kepada Allah.
Karena pada akhirnya, yang kita butuhkan bukan lebih banyak konten untuk memenuhi layar, tetapi lebih banyak iman untuk memenuhi hati.
—
Renungan
Sebelum membuka media sosial hari ini, tanyakan kepada diri sendiri:
«“Aku sedang mencari apa?”»
Hiburan?
Pelarian?
Validasi?
Atau sebenarnya aku sedang mencari ketenangan?
Dan jika yang kita cari adalah ketenangan, mungkin sudah waktunya berhenti scrolling dan mulai kembali kepada Allah.