Ketika Likes Lebih Berharga daripada Ridha Allah
Ketika angka di layar mulai lebih kita pedulikan daripada penilaian Allah.
Pernah nggak kita mengunggah sesuatu, lalu tanpa sadar berkali-kali membuka kembali postingan tersebut?
“Udah berapa likes?”
“Siapa aja yang like?”
“Kok yang lihat story sedikit?”
“Kenapa postingan dia lebih ramai?”
Awalnya cuma iseng.
Tapi lama-lama, angka-angka itu mulai memengaruhi perasaan.
Likes bertambah → senang.
Likes sedikit → kecewa.
Komentar positif → percaya diri.
Tidak ada yang merespons → merasa tidak dianggap.
Sampai akhirnya kita harus bertanya kepada diri sendiri:
«“Sebenarnya, untuk siapa aku melakukan semua ini?”»
Karena ada satu bahaya yang sangat halus di era media sosial:
kita bisa mulai lebih bahagia ketika manusia menyukai kita, daripada ketika Allah meridai kita.
—
1. Likes Itu Angka, Bukan Nilai Diri
Media sosial membuat sesuatu yang sebenarnya sederhana menjadi terlihat sangat penting.
Sebuah foto bisa mendapatkan 10 likes.
Postingan berikutnya mendapatkan 500 likes.
Lalu kita mulai berpikir bahwa postingan kedua lebih “berharga”.
Padahal tidak sesederhana itu.
Jumlah likes tidak menentukan kemuliaan seseorang.
Jumlah followers tidak menentukan kedudukan seseorang di sisi Allah.
Viral tidak berarti mulia.
Tidak terkenal juga tidak berarti hina.
Allah ﷻ berfirman:
«إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ»
«“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Hujurat: 13)»
Perhatikan standar yang Allah berikan.
Bukan jumlah followers.
Bukan jumlah likes.
Bukan jumlah komentar.
Bukan seberapa sering nama kita muncul di media sosial.
Standarnya adalah takwa.
Maka jangan sampai kita mengejar sesuatu yang tidak menentukan kemuliaan kita, tetapi melupakan sesuatu yang justru menentukan kedudukan kita di sisi Allah.
—
2. Ketika Validasi Manusia Mulai Menjadi Tujuan
Tidak salah merasa senang ketika mendapatkan apresiasi.
Kita manusia.
Dipuji tentu menyenangkan.
Dihargai juga menyenangkan.
Masalahnya muncul ketika apresiasi manusia mulai menjadi tujuan utama.
Kita mulai melakukan sesuatu bukan karena Allah, tetapi karena ingin dilihat.
Berbagi ilmu supaya dianggap pintar.
Sedekah supaya dianggap dermawan.
Beribadah supaya dianggap saleh.
Mengunggah kegiatan dakwah supaya dianggap aktif.
Bahkan mungkin melakukan kebaikan lalu diam-diam kecewa karena tidak ada yang memberikan apresiasi.
Di sinilah kita perlu berhati-hati terhadap riya.
Allah ﷻ berfirman:
«فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ»
«“Maka celakalah orang-orang yang shalat, yaitu mereka yang lalai terhadap shalatnya, mereka yang berbuat riya.”
(QS. Al-Ma’un: 4–6)»
Riya adalah melakukan amal dengan tujuan agar dilihat dan mendapatkan pujian manusia.
Dan bahayanya bukan karena amal itu terlihat.
Bahaya utamanya adalah ketika pandangan manusia menjadi alasan kita melakukan amal tersebut.
—
3. “Yang Penting Niatnya Baik” Tidak Selalu Cukup
Kita sering mendengar:
«“Yang penting kan niatnya baik.”»
Benar, niat itu penting.
Tetapi Islam mengajarkan bahwa amal harus dilakukan dengan niat yang benar.
Rasulullah ﷺ bersabda:
«إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ»
«“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya.”
(HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907)»
Dua orang bisa melakukan hal yang sama, tetapi nilainya di sisi Allah bisa sangat berbeda karena niatnya berbeda.
Dua orang sama-sama membuat konten dakwah.
Yang satu ingin mengajak manusia kepada kebaikan.
Yang satu ingin terkenal sebagai ustaz atau tokoh agama.
Dua-duanya terlihat melakukan hal yang sama.
Tetapi Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati.
Karena itu, sebelum bertanya:
“Berapa orang yang melihat?”
Kita perlu bertanya:
“Untuk siapa aku melakukan ini?”
—
4. Allah Tidak Menilai Kita dari Tampilan Luar
Media sosial sangat kuat dalam membentuk budaya penampilan.
Feed harus rapi.
Foto harus bagus.
Caption harus keren.
Profil harus terlihat menarik.
Kehidupan harus terlihat bahagia.
Tetapi Allah tidak menilai manusia seperti algoritma media sosial.
Rasulullah ﷺ bersabda:
«إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ»
«“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal kalian.”
(HR. Muslim no. 2564)»
Betapa berbeda standar Allah dengan standar dunia digital.
Manusia melihat foto.
Allah melihat hati.
Manusia melihat pencapaian.
Allah melihat amal.
Manusia melihat apa yang kita tampilkan.
Allah mengetahui apa yang kita sembunyikan.
—
5. Bahaya Ketika Kebaikan Harus Selalu Dipublikasikan
Ada satu pertanyaan sederhana yang layak kita tanyakan:
«“Kalau tidak ada seorang pun yang tahu, apakah aku masih mau melakukan kebaikan ini?”»
Kalau jawabannya iya, itu tanda yang baik.
Tetapi kalau kita hanya bersemangat ketika ada yang melihat, kita perlu berhenti sejenak dan mengevaluasi niat.
Bukan berarti semua amal harus disembunyikan.
Tidak.
Ada amal yang memang baik untuk ditampilkan jika tujuannya benar.
Misalnya mengajak orang bersedekah, menyebarkan ilmu, mengumumkan kegiatan sosial, atau memberikan contoh kebaikan agar orang lain termotivasi.
Namun hati tetap harus dijaga.
Karena yang kita takutkan bukan sekadar orang melihat amal kita.
Yang kita takutkan adalah kita melakukan amal karena ingin dilihat.
—
6. Riya Bisa Datang Bahkan Setelah Amal Dilakukan
Masalahnya, penyakit hati kadang sangat halus.
Awalnya kita melakukan sesuatu karena Allah.
Kemudian orang memuji.
“MasyaAllah, keren banget.”
“MasyaAllah, alim banget.”
“MasyaAllah, dermawan.”
Lalu hati mulai menikmati pujian tersebut.
Ini sebabnya kita perlu terus menjaga niat.
Rasulullah ﷺ menyampaikan dalam hadis qudsi:
«أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي، تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ»
«“Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barang siapa melakukan suatu amal dengan mempersekutukan selain Aku di dalamnya, Aku tinggalkan dia dan kesyirikannya.”
(HR. Muslim no. 2985)»
Ini peringatan yang sangat serius.
Amal yang secara lahir terlihat baik bisa kehilangan nilainya ketika tujuan di baliknya rusak.
Maka jangan hanya memperhatikan apa yang kita lakukan.
Perhatikan juga untuk siapa kita melakukannya.
—
7. Ketika Tidak Ada Likes, Apakah Kita Tetap Mau Berbuat Baik?
Bayangkan kita mengunggah sebuah nasihat agama.
Tidak ada yang like.
Tidak ada yang komentar.
Tidak ada yang membagikan.
Sepi.
Apakah kita akan tetap menganggapnya sebagai amal?
Jawabannya seharusnya:
Iya.
Karena nilai sebuah amal tidak ditentukan oleh engagement.
Bisa jadi satu orang membaca tulisan kita lalu berubah.
Bisa jadi satu orang melihat sebuah video lalu kembali shalat.
Bisa jadi satu orang membaca satu ayat lalu menangis dan bertaubat.
Dan bisa jadi kita tidak pernah tahu siapa orangnya.
Tetapi Allah tahu.
Dan itu sudah cukup.
—
8. Ada Orang yang Terkenal di Dunia, Tetapi Tidak Dikenal di Langit
Kita sering mengukur keberhasilan dengan popularitas.
Semakin banyak dikenal, semakin sukses.
Semakin banyak followers, semakin hebat.
Semakin sering muncul, semakin berpengaruh.
Padahal ukuran itu tidak selalu berlaku dalam agama.
Ada orang yang tidak terkenal di dunia, tetapi sangat bernilai di sisi Allah.
Ada orang yang tidak pernah viral, tetapi setiap malam menangis dalam doa.
Ada orang yang tidak pernah mengunggah sedekahnya, tetapi tangannya selalu membantu orang lain.
Ada orang yang tidak punya banyak followers, tetapi hidupnya penuh manfaat.
Sebaliknya, seseorang bisa sangat terkenal di mata manusia tetapi tidak memiliki nilai di sisi Allah jika amalnya dibangun di atas kesombongan dan riya.
Karena itu, jangan terlalu sibuk membangun personal branding sampai lupa membangun amal yang ikhlas.
—
9. Bagaimana Cara Menjaga Keikhlasan di Era Media Sosial?
Menjadi ikhlas di zaman digital bukan berarti harus menghilang dari media sosial.
Yang diperlukan adalah kesadaran terhadap niat.
1. Tanyakan Niat Sebelum Posting
Sebelum mengunggah sesuatu, tanyakan:
«“Kenapa aku ingin mengunggah ini?”»
Apakah untuk memberikan manfaat?
Berbagi ilmu?
Mengajak kepada kebaikan?
Dokumentasi?
Atau sebenarnya ingin dipuji?
Jujurlah kepada diri sendiri.
Karena hati kita lebih tahu daripada caption yang kita tulis.
—
2. Miliki Amal yang Tidak Diketahui Siapa Pun
Ini salah satu cara yang baik untuk melatih keikhlasan.
Miliki amal yang hanya kita dan Allah yang tahu.
Sedekah diam-diam.
Shalat malam.
Membaca Al-Qur’an.
Mendoakan orang lain.
Membantu seseorang tanpa menceritakannya.
Tidak perlu semuanya masuk story.
Biarkan ada bagian dari hidup kita yang hanya menjadi rahasia antara kita dengan Allah.
—
3. Jangan Jadikan Likes sebagai Ukuran Keberhasilan
Kalau postingan kita ramai, bersyukurlah.
Kalau sepi, tidak perlu merasa gagal.
Konten yang tidak viral tetap bisa bernilai.
Kebaikan yang tidak mendapatkan komentar tetap dicatat.
Dan amal yang tidak diketahui manusia tetap diketahui Allah.
—
4. Jangan Hapus Amal Hanya Karena Takut Riya
Ini juga penting.
Jangan sampai kita berhenti melakukan kebaikan hanya karena takut dianggap riya.
Teruslah beramal sambil memperbaiki niat.
Kalau muncul rasa ingin dipuji, lawan.
Kalau muncul keinginan untuk terlihat hebat, evaluasi.
Kalau hati mulai mencari perhatian manusia, kembalikan lagi niat kepada Allah.
—
10. Apa yang Lebih Kita Cari: Likes atau Ridha Allah?
Bayangkan suatu hari nanti semua akun media sosial kita hilang.
Followers hilang.
Likes hilang.
Komentar hilang.
Foto hilang.
Video hilang.
Popularitas hilang.
Pada akhirnya, yang tersisa bukan jumlah engagement kita.
Yang tersisa adalah amal.
Allah ﷻ berfirman:
«وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِندَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا»
«“Adapun amal-amal kebajikan yang kekal itu lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu dan lebih baik untuk menjadi harapan.”
(QS. Al-Kahfi: 46)»
Likes bisa hilang.
Followers bisa berkurang.
Tren akan berganti.
Popularitas akan berlalu.
Tetapi amal saleh yang diterima Allah akan menjadi bekal.
Maka jangan sampai kita mengorbankan sesuatu yang abadi demi sesuatu yang hanya bertahan beberapa detik di layar.
—
11. Jangan Sampai Kita Mengejar Ridha Manusia dan Kehilangan Ridha Allah
Ada satu pertanyaan yang mungkin terasa sederhana, tetapi cukup untuk menjadi bahan muhasabah:
«Kalau Allah sudah ridha kepadaku, apakah aku masih membutuhkan semua orang untuk menyukaiku?»
Kita tidak mungkin membuat semua manusia menyukai kita.
Akan selalu ada yang tidak suka.
Akan selalu ada yang mengkritik.
Akan selalu ada yang salah memahami.
Akan selalu ada yang tidak peduli.
Dan itu tidak masalah.
Karena tujuan hidup seorang Muslim bukan membuat seluruh manusia menyukainya.
Tujuan kita adalah mencari ridha Allah.
Jika manusia memuji tetapi Allah tidak ridha, pujian itu tidak akan menyelamatkan kita.
Namun jika Allah ridha, lalu manusia tidak mengenal kita, itu bukan kerugian.
—
Penutup: Jangan Tukar Ridha Allah dengan Angka di Layar
Media sosial membuat kita terbiasa melihat angka.
Jumlah likes.
Jumlah followers.
Jumlah views.
Jumlah komentar.
Jumlah shares.
Tanpa sadar, angka-angka tersebut mulai menentukan harga diri kita.
Padahal nilai kita di hadapan Allah tidak ditentukan oleh angka-angka itu.
Bisa jadi postingan kita mendapatkan ribuan likes, tetapi tidak bernilai di sisi Allah karena niatnya salah.
Dan bisa jadi sebuah kebaikan yang tidak diketahui seorang pun justru menjadi amal yang sangat bernilai karena dilakukan dengan ikhlas.
Maka sebelum kita mengunggah sesuatu, berhentilah sejenak.
Tanyakan kepada diri sendiri:
«“Kalau tidak ada satu orang pun yang melihat, apakah aku masih akan melakukan ini?”»
Kalau jawabannya iya, lanjutkan.
Kalau jawabannya tidak, mungkin kita perlu memperbaiki niat.
Karena pada akhirnya…
Likes hanya membuat nama kita terlihat oleh manusia.
Tetapi keikhlasan membuat amal kita bernilai di hadapan Allah.
Jangan sampai kita terlalu sibuk mencari tanda like dari manusia, sampai lupa mencari ridha dari Allah.
Sebab ketika kehidupan dunia selesai, kita tidak akan ditanya:
«“Berapa followers-mu?”»
Kita tidak akan ditanya:
«“Berapa likes yang kamu dapatkan?”»
Tetapi kita akan mempertanggungjawabkan amal dan niat kita di hadapan Allah.
Maka silakan berkarya.
Silakan berbagi.
Silakan berdakwah.
Silakan menggunakan media sosial untuk kebaikan.
Tetapi pastikan satu hal:
«Jangan sampai kita lebih takut kehilangan likes daripada kehilangan keikhlasan.»
Karena likes hanya bertahan di layar, sedangkan ridha Allah adalah sesuatu yang kita harapkan hingga akhirat.
—
Renungan
Hari ini, coba buka kembali media sosial kita.
Lihat apa yang selama ini kita unggah.
Kemudian tanyakan kepada diri sendiri:
“Jika semua orang berhenti melihatku, apakah aku masih ingin menjadi orang baik?”
Jika jawabannya iya, pertahankan.
Jika hati mulai ragu, jangan putus asa.
Perbaiki niat. Kembali kepada Allah. Dan mulai lagi.