Bukan Hidupmu yang Kurang, Mungkin Syukurmu yang Hilang
Pernah merasa hidupmu kurang, padahal sebenarnya banyak hal yang sudah kamu miliki? Kurang uang, kurang bahagia, kurang dihargai, kurang sukses, atau merasa kehidupan orang lain jauh lebih baik?
Perasaan seperti itu bisa muncul pada siapa saja.
Kita melihat teman yang sudah sukses, lalu merasa tertinggal. Melihat orang lain punya pasangan, lalu merasa hidup kita sepi. Melihat seseorang membeli sesuatu yang kita inginkan, lalu tiba-tiba kehidupan sendiri terasa begitu sederhana.
Tanpa sadar, kita lebih sering menghitung apa yang belum kita punya daripada menyadari apa yang sudah Allah berikan.
Mungkin masalahnya bukan hidup kita yang terlalu sedikit.
Mungkin rasa syukur kita yang sedang berkurang.
“Apa Itu Syukur dalam Islam?”
Syukur dalam Islam bukan sekadar mengucapkan Alhamdulillah ketika mendapatkan sesuatu yang menyenangkan.
Syukur adalah kesadaran bahwa setiap nikmat yang kita miliki berasal dari Allah, kemudian menggunakan nikmat tersebut dalam perkara yang diridai-Nya.
Allah berfirman:
«وَإِن تَعُدُّوا۟ نِعْمَتَ ٱللَّهِ لَا تُحْصُوهَآ
“Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.”
(QS. An-Nahl: 18)»
Ayat ini sederhana, tetapi maknanya sangat dalam.
Coba hitung nikmat yang kita terima sejak bangun tidur.
Kita masih bisa membuka mata. Masih bisa bernapas. Masih memiliki tubuh yang dapat bergerak. Masih bisa makan. Masih bisa berbicara. Masih memiliki kesempatan untuk belajar, bekerja, beribadah, memperbaiki kesalahan, dan bertaubat.
Kalau seluruh nikmat itu dihitung satu per satu, kita tidak akan mampu menghitungnya.
Lalu mengapa kita masih sering merasa hidup ini begitu kurang?
Karena sering kali perhatian kita hanya tertuju pada satu hal yang belum kita miliki.
—
Mengapa Kita Sulit Bersyukur?
Salah satu penyebabnya adalah kebiasaan membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang lain.
Hari ini, media sosial membuat hal tersebut semakin mudah.
Kita melihat orang lain bepergian, membeli barang baru, mendapatkan pekerjaan, menikah, memiliki rumah, atau mencapai sesuatu yang kita inginkan.
Yang kita lihat hanya beberapa detik dari kehidupan mereka.
Tetapi kita membandingkannya dengan seluruh kehidupan kita.
Akhirnya muncul pikiran:
“Kenapa hidup dia lebih enak daripada hidupku?”
Padahal kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang sedang mereka hadapi di balik layar.
Kita melihat nikmat mereka, tetapi tidak melihat ujian mereka.
Kita melihat pencapaian mereka, tetapi tidak melihat perjuangan mereka.
Kita melihat hasil akhirnya, tetapi tidak melihat proses panjang yang mereka jalani.
Karena itu, membandingkan kehidupan secara berlebihan hanya akan membuat hati sulit menikmati nikmat yang sudah ada.
—
Allah Menjanjikan Tambahan Nikmat bagi Orang yang Bersyukur
Allah memberikan janji yang sangat jelas kepada orang-orang yang bersyukur:
«لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.”
(QS. Ibrahim: 7)»
Perhatikan kata لَأَزِيدَنَّكُمْ (la-azīdannakum).
Allah menjanjikan bahwa Dia akan menambah nikmat bagi orang yang bersyukur.
Namun, tambahan nikmat tidak selalu berarti mendapatkan lebih banyak uang atau barang.
Kadang Allah menambah nikmat dalam bentuk ketenangan hati.
Kadang berupa kesehatan.
Kadang berupa keluarga yang harmonis.
Kadang berupa teman yang baik.
Kadang berupa ilmu.
Kadang berupa kemudahan dalam beribadah.
Bahkan terkadang, nikmat terbesar adalah ketika Allah memberikan kemampuan kepada seseorang untuk merasa cukup dengan apa yang dimilikinya.
Sebab, memiliki banyak hal belum tentu membuat seseorang merasa cukup.
Sebaliknya, orang yang memiliki rasa syukur dapat menemukan ketenangan bahkan dalam kehidupan yang sederhana.
—
Syukur Bukan Berarti Tidak Boleh Menginginkan Hidup yang Lebih Baik
Ada kesalahpahaman yang perlu diluruskan.
Bersyukur bukan berarti harus berhenti memiliki cita-cita.
Seorang Muslim boleh ingin memiliki kehidupan yang lebih baik.
Boleh ingin mendapatkan pekerjaan yang lebih layak.
Boleh ingin memiliki penghasilan yang lebih besar.
Boleh ingin memiliki rumah yang nyaman.
Boleh ingin melanjutkan pendidikan.
Boleh ingin memperbaiki kondisi ekonomi.
Semua itu tidak bertentangan dengan rasa syukur.
Yang menjadi masalah adalah ketika keinginan tersebut membuat kita membenci kehidupan yang sedang Allah berikan.
Kita boleh mengejar sesuatu yang belum ada.
Tetapi jangan sampai karena mengejar yang belum ada, kita melupakan sesuatu yang sudah ada.
Bersyukur bukan berarti berhenti berkembang. Bersyukur berarti berkembang tanpa menjadi kufur terhadap nikmat yang telah dimiliki.
—
Rasulullah ﷺ Mengajarkan Cara Bersyukur yang Sebenarnya
Rasulullah ﷺ adalah contoh terbaik dalam bersyukur.
Aisyah رضي الله عنها pernah menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ melaksanakan salat malam hingga kedua kaki beliau bengkak.
Ketika ditanya mengapa beliau melakukan hal tersebut, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosa beliau, Rasulullah ﷺ menjawab:
«أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا
“Tidakkah aku diperbolehkan menjadi hamba yang bersyukur?”
(HR. Bukhari dan Muslim)»
Ini menunjukkan bahwa syukur bukan hanya ucapan.
Syukur harus terlihat dalam tindakan.
Jika Allah memberikan kesehatan, gunakan kesehatan untuk beribadah.
Jika Allah memberikan ilmu, gunakan ilmu untuk memberi manfaat.
Jika Allah memberikan harta, gunakan harta untuk kebaikan.
Jika Allah memberikan waktu, jangan habiskan seluruhnya untuk sesuatu yang tidak bermanfaat.
Nikmat yang digunakan dalam ketaatan adalah salah satu bentuk syukur.
—
Ketika Mendapat Nikmat, Bersyukur. Ketika Mendapat Ujian, Bersabar.
Hidup seorang Muslim tidak selalu berjalan sesuai keinginan.
Ada hari ketika kita mendapatkan apa yang kita harapkan.
Ada pula hari ketika sesuatu yang kita cintai justru pergi.
Ada masa ketika rezeki terasa luas.
Ada masa ketika keadaan terasa sempit.
Rasulullah ﷺ bersabda:
«عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ
“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya adalah kebaikan baginya.”
“Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur dan itu menjadi kebaikan baginya. Jika ia tertimpa kesusahan, ia bersabar dan itu pun menjadi kebaikan baginya.”
(HR. Muslim no. 2999)»
Hadis ini bukan berarti semua kejadian pasti terasa menyenangkan.
Tidak.
Kehilangan tetap menyakitkan.
Kegagalan tetap mengecewakan.
Kesulitan tetap melelahkan.
Namun seorang mukmin memiliki cara menghadapi keduanya:
ketika mendapatkan nikmat, ia bersyukur; ketika mendapatkan ujian, ia bersabar.
—
Jangan Sampai Kita Baru Menyadari Nikmat Setelah Kehilangannya
Sering kali manusia baru menyadari nilai sesuatu setelah sesuatu itu hilang.
Kita baru merindukan kesehatan ketika sakit.
Kita baru menyadari pentingnya waktu ketika kesempatan sudah berlalu.
Kita baru menghargai seseorang ketika dia tidak lagi berada di sisi kita.
Kita baru menyadari betapa berharganya sebuah rumah ketika tidak lagi bisa pulang ke sana.
Padahal selama semuanya masih ada, kita menganggapnya biasa.
Itulah sebabnya rasa syukur perlu dilatih sebelum kehilangan datang.
Allah berfirman:
«فَٱذْكُرُونِىٓ أَذْكُرْكُمْ وَٱشْكُرُوا۟ لِى وَلَا تَكْفُرُونِ
“Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.”
(QS. Al-Baqarah: 152)»
Syukur membuat kita berhenti sejenak dan menyadari:
“Ternyata selama ini aku memiliki begitu banyak hal yang sering aku anggap biasa.”
—
Jangan Hanya Menghitung Kekurangan
Coba lakukan sesuatu malam ini.
Sebelum tidur, jangan hanya mengingat masalah yang terjadi hari ini.
Coba ingat kembali nikmat yang Allah berikan.
Masih bisa makan?
Alhamdulillah.
Masih diberi kesehatan?
Alhamdulillah.
Masih memiliki orang yang menyayangi?
Alhamdulillah.
Masih bisa beribadah?
Alhamdulillah.
Masih diberikan kesempatan untuk memperbaiki diri?
Alhamdulillah.
Masih diberi umur sampai hari ini?
Alhamdulillah.
Mungkin hidup kita memang belum seperti yang kita inginkan.
Tetapi bukan berarti hidup kita tidak memiliki nikmat.
Kadang kita hanya terlalu fokus pada satu pintu yang belum terbuka sampai lupa bahwa Allah telah membukakan begitu banyak pintu lainnya.
—
Bagaimana Cara Meningkatkan Rasa Syukur?
Rasa syukur bukan sesuatu yang hanya muncul ketika keadaan sedang baik. Ia perlu dilatih.
1. Berhenti terlalu sering membandingkan diri
Bandingkan diri kita dengan diri kita yang dahulu.
Apakah hari ini kita lebih baik daripada kemarin?
Apakah ilmu kita bertambah?
Apakah ibadah kita membaik?
Apakah akhlak kita semakin baik?
Perbandingan seperti ini jauh lebih sehat daripada terus melihat pencapaian orang lain.
2. Sadari nikmat yang sering dianggap biasa
Tidak semua nikmat datang dalam bentuk sesuatu yang besar.
Kemampuan bernapas, tidur dengan tenang, memiliki keluarga, mendapatkan makanan, memiliki teman baik, dan mempunyai waktu untuk memperbaiki diri merupakan nikmat yang sering luput dari perhatian.
3. Gunakan nikmat dengan benar
Syukur kepada Allah harus memiliki bukti.
Allah memberikan harta → gunakan dengan baik.
Allah memberikan ilmu → amalkan dan ajarkan.
Allah memberikan kesehatan → gunakan untuk kebaikan.
Allah memberikan waktu → jangan sia-siakan seluruhnya.
4. Tetap berdoa dan berusaha
Syukur bukan alasan untuk berhenti berusaha.
Justru orang yang bersyukur akan berusaha memperbaiki kehidupannya sambil tetap ridha terhadap ketetapan Allah.
Kita mengejar masa depan tanpa membenci keadaan hari ini.
—
Bersyukur kepada Allah Juga Berarti Menghargai Kebaikan Manusia
Rasulullah ﷺ bersabda:
«لَا يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لَا يَشْكُرُ النَّاسَ
“Tidak bersyukur kepada Allah orang yang tidak bersyukur kepada manusia.”
(HR. Abu Dawud no. 4811; dinilai sahih)»
Maka jangan pelit mengucapkan ucapan “terima kasih”.
Berterima kasih kepada orang tua yang telah berjuang.
Menghargai guru yang telah mengajarkan ilmu.
Menghargai teman yang membantu ketika kita kesulitan.
Menghargai pasangan yang selalu mendukung.
Menghargai siapa pun yang pernah menjadi perantara datangnya kebaikan kepada kita.
Karena salah satu tanda syukur adalah mampu menghargai nikmat dan orang yang menjadi sebab datangnya kebaikan.
—
Penutup
Mungkin selama ini kita terlalu sibuk mengejar sesuatu yang belum kita miliki.
Kita ingin lebih kaya.
Ingin lebih sukses.
Ingin lebih dicintai.
Ingin lebih dihargai.
Ingin memiliki kehidupan seperti orang lain.
Tidak salah memiliki semua keinginan itu.
Tetapi jangan sampai keinginan terhadap sesuatu yang belum kita miliki membuat kita meremehkan sesuatu yang sudah Allah berikan.
Sebab bisa jadi, kehidupan yang kita keluhkan hari ini adalah kehidupan yang suatu hari nanti justru akan kita rindukan.
Allah berfirman:
«لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
“Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu.”
(QS. Ibrahim: 7)»
Jadi, sebelum berkata:
“Hidupku kurang.”
Cobalah bertanya:
“Sudahkah aku benar-benar mensyukuri hidup yang Allah berikan?”
Karena terkadang yang perlu diperbaiki bukan kehidupan kita.
“Bukan hidupmu yang kurang. Mungkin syukurmu yang hilang.”